Tetap Berlanjut

Ketikan gua kali ini gua dedikasikan untuk seseorang. Seseorang yang bisa menjadi kakak, teman, sahabat, partner, dan masih banyak lagi. Entah apakah dia juga berpikir hal yang sama atau mungkin tidak. Berawal dari tidak kenal menjadi kenal, berawal dari benci menjadi akrab, berawal dari biasa aja sampai menjadi luar biasa.

Perkenalan kami terjadi  saat memulai perkuliahan tepatnya setelah daftar ulang, awal gua joint grup agkatan dia salah satu anak yang bawel di grup dan muncul mulu di grup. Setelah beberapa waktu akhirnya perkuliahan dimulai dan ternyata kami sekelas. Jujur diawal dia sangat amat annoying banget rasa ingin berkata kasar sangat amat sering. Sampai akhirnya kami pisah kelas praktikum, tapi masih dalam satu kelas kuliah. Sekitar bulan oktober karna bingung format laporan akhirnya kami dan teman kami satu lagi membuat multi-chat dan justru multi-chat itu mengkrabkan kami bahkan hal yang gak penting buat dibahas bisa menjadi topik besar.

Seiring berjalannya waktu mulai dari tugas membuat vlog, satu kelas kuliah, satu departement di organisasi membuat kami semakin akrab sampai semua teman bertanya hal yang sama "kalian pacaran", "ah lu mah berdua mulu", dan banyak lagi pertanyaan yang mebuat kami tertawa geli. Setelah setahun akhirnya kami berpisah mulai dari berpisah kelas, sampai berpisah departement. Mungkin tuhan sudah bosen melihat kami bersama terus kali ya(?).


Sama hal nya dengan sebuah hubungan relationship goals, friendship goals pun tak lengkap rasanya apabila tidak ada 'bumbu pertengakaran'. Biasanya pertengkaran kami hanya berlangsung 1-3 jam saja. Tapi kali ini berbeda pertengakaran kali ini mencapai satu minggu lebih, suatu record tersendiri untuk kami. Pertengkaran ini sendiri disebabkan oleh gua, tapi dipancing oleh dia hehe. Bahkan kalau dipikir-pikir drama sinetron serasa terjadi di dunia nyata mungkin judul yang tepat 'Perebutan tahta oleh dua anak raja'. Gua merasa bila dia ikut bersaing untuk merebutkan suatu yang gua inginkan, dia akan menjadi batu yang sangat besar untuk menghalangi gua. Gua orangnya benci kekalahan sehingga gua memutuskan untuk menjaga jarak dengan dia. Saat menjaga jarak ini gua merasakan ada hal yang hilang, dan mungkin dia pun merasakannya.

Jarak yang timbul itu terasa oleh dia, bahkan teman-teman disekitar kami ikut merasakannya. Seperti yang gua katakan diawal dia bisa menjadi seorang kakak untuk gua dan sifat childish gua, jadi dia memutuskan untuk berbicara face to face dengan gua. Saat itu semua uneg-uneg gua, uneg-uneg dia tertuah dalam percakapan itu. Setelah itu kami akhirnya baikan, butuh waktu untuk menyiptakan atmosfer yang telah hancur itu. Tapi bukan teman akrab namanya kalau tidak bisa akrab kembali dan tertawa seperti awal.

'Kita tidak mungkin marah lebih lama kepada seseorang yang selalu berhasil membuat kita tertawa atau tersenyum'.-Anonim

Komentar

Postingan Populer